Posted in
Label:
ESSAI
|
di
19.22

BATOK YANG TAK BOTAK
Di suatu sore yang sederhana, menyebrangi rel dan jalan raya dengan mobil yang melintas garang. Dari sinilah cerita bermula, saat hamparan buah kelapa menghias di depan muka. Ini sama sekali bukan pantai, lengkap dengan terpal dan kursi panjang.
Kupesan kelapa langsung dari batoknya tanpa dituang ke dalam gelas, membayangkan daging kelapa muda yang legit, lembut dan manis. Terbayang kesegaran mengalir di kerongkongan, terbayar sudah rasa lelah setelah seharian penuh berjalan-jalan dan tentunya menghapus rasa penasaran, merasakan bagaimana meminum es kelapa langsung dari batoknya.
Ibu tua datang dengan dandanan ala lelaki; rambut cepak, kemeja lusuh dan celana pendek selutut. Membelah batok kelapa dengan kasar, mengerok dengan asal, dan terakhir menambahkan sebongkah es batu sekedar hiasan. Kemudian dihidangkan padaku yang sudah menanti dengan tak sabar.
Kutuangkan sirup vanila yang rasanya lebih mirip pemanis buatan atau lebih parah, bahan kimia! Kutelan daging kelapa muda mentah-mentah, berharap akan ada serutan yang banyak dari satu kelapa utuh, tapi… setelah airnya surut, baru kumengerti, betapa curang sang ibu yang berdandan ala lelaki. Daging kelapa dikeroknya sedikit saja dan sisanya masih menempel erat di dinding batok bagian dalam.
Penuh rasa kesal, kukerok dengan ujung sendok sampai ujungnya menjadi bengkok, kulakukan semua itu tepat di wajah sang pedagang yang rupanya tengah mengintaiku dari kejauhan, seolah ingin melihat bagaimana reaksiku atau mungkin melihat betapa dungunya aku, membeli satu kelapa utuh dengan dagingnya yang tak pernah utuh, karena begitulah yang terjadi pada semua kelapa yang disajikan langsung dengan batoknya, dibelah dengan kasar, dikerok dengan asal, dan terakhir ditambahkan sebongkah es batu sekedar untuk hiasan. Sisa daging kelapa muda yang masih menempel erat di dinding batok bagian dalam itu, tak akan rela untuk dibuangnya, melainkan akan dikeroknya kembali setelah pembeli pulang dan dijualnya secara eceran. Betapa senang ia melihat keterbatasan sang pembeli yang tak mungkin mengerok sendiri dengan sendok yang hampir patah.
Itulah asumsiku, mungkin juga suudzonku namun cukup beralasan, karena kusaksikan sendiri kumpulan batok kelapa yang menggunung di pinggir jalan dan kini jadi tempat lalat-lalat terbang dan bersarang, semunya mulus bersih telah dikerok sampai habis.
Aku menyeringai tajam dan tertawa penuh kemenangan seolah yakin benar akan taktik si pedagang. Kuobok-obok isi batok dan kukerok sendiri dagingnya dengan kuku-kukuku yang tak tajam. Sia-sia memang tapi itu bukan karena aku lapar melainkan bentuk protesku…
Tapi rasa bersalah muncul tiba-tiba, membiarkan pembeli eceran memakan sisa-sisa daging kelapaku yang telah dikerok kembali setelah aku pulang, rasa yang mungkin tak dimiliki oleh pedagang itu…
November 2009
SINOPSIS CERPEN
Posted in
Label:
CERPEN
|
di
12.33
A. Cerpen “Pispot” karya Hamsad Rangkuti
Cerita berawal dari penangkapan seorang penjambret yang beraksi di tengah pasar. Bersama wanita pemilik kalung 15 gram yang menjadi korban penjambretan, tokoh aku, petugas pasar, dan beberapa polisi akhirnya penjambret tersebut dibawa ke kantor polisi.
Di kantor polisi penjambret tersebut dipaksa untuk mengaku. Saat itulah tokoh aku mengadu pada polisi bahwa penjambret itu telah menelan kalung yang dijambretnya. Berkat keterangan tokoh aku inilah, maka polisi memaksa penjambret itu mengeluarkan kalung yang ditelannya. Penjambret itu menolak tetapi atas bujukan tokoh aku akhirnya penjambret itu mau menelan obat pencahar berupa larutan garam inggris, buah pepaya dan pisang untuk mengeluarkan kalung tersebut.
Melalui pispot, penjambret itu mengeluarkan kotorannya tetapi karena kalung milik wanita tidak diketemukan juga, maka akhirnya polisi membebaskan penjambret itu. Tokoh aku yang merasa sangat bersalah mengantarkan penjambret itu pulang ke rumahnya.
Setibanya di gang tempat tinggalnya, barulah penjambret itu mengaku bahwa memang benar ia telah menelan kalung 15 gram milik wanita itu. Ia terpaksa melakukannya karena saat itu ia sangat membutuhkan uang untuk mengobati anaknya yang sedang sakit, tetapi setiap kalung itu keluar ia langsung menelannya kembali. Kejadian itu terulang selama tiga kali hingga akhirnya ia dibebaskan karena polisi tidak dapat membuktikan kesalahannya.
B. Cerpen ‘Si Bongkok dari Seoul’ karya Kwon Taeung
Cerita berawal dari penggambaran tokoh aku yang sedang terkenang seorang wanita muda dan cantik yang berasal dari Ahyondong. Wanita inilah yang selama beberapa hari tinggal bersamanya di sebuah rumah mewah yang diakui tokoh aku sebagai miliknya.
Dalam suasana perang, tanpa sengaja mereka bertemu dan sama-sama bersembunyi di rumah tersebut hingga akhirnya wanita itu pergi meninggalkannya begitu saja setelah merasa berhasil menguasai rumah tersebut.
Ketika peperangan usai, akhirnya tokoh aku juga mulai meninggalkan rumah itu karena ia sadar bahwa pemilik rumah yang sebenarnya pasti akan kembali. Ia menuju ke gubuk kecilnya yang masih utuh tetapi di sana ia tidak menemukan anjing kecilnya yang bernama Willi. Karena itulah ia kembali ke tengah kota tetapi alangkah terkejutnya ia saat melewati rumah mewah yang sempat ditempatinya. Di depan rumah itu duduklah wanita dari Ahyondong bersama seorang lelaki yang sehat dan berotot, tidak bongkok seperti dirinya.
Tokoh aku merasa sangat sedih dan kecewa karena ia telah kehilangan anjing kecilnya dan dikhianati oleh wanita dari Ahyondong itu. Ia tak punya apa-apa lagi.
Cerita berawal dari penangkapan seorang penjambret yang beraksi di tengah pasar. Bersama wanita pemilik kalung 15 gram yang menjadi korban penjambretan, tokoh aku, petugas pasar, dan beberapa polisi akhirnya penjambret tersebut dibawa ke kantor polisi.
Di kantor polisi penjambret tersebut dipaksa untuk mengaku. Saat itulah tokoh aku mengadu pada polisi bahwa penjambret itu telah menelan kalung yang dijambretnya. Berkat keterangan tokoh aku inilah, maka polisi memaksa penjambret itu mengeluarkan kalung yang ditelannya. Penjambret itu menolak tetapi atas bujukan tokoh aku akhirnya penjambret itu mau menelan obat pencahar berupa larutan garam inggris, buah pepaya dan pisang untuk mengeluarkan kalung tersebut.
Melalui pispot, penjambret itu mengeluarkan kotorannya tetapi karena kalung milik wanita tidak diketemukan juga, maka akhirnya polisi membebaskan penjambret itu. Tokoh aku yang merasa sangat bersalah mengantarkan penjambret itu pulang ke rumahnya.
Setibanya di gang tempat tinggalnya, barulah penjambret itu mengaku bahwa memang benar ia telah menelan kalung 15 gram milik wanita itu. Ia terpaksa melakukannya karena saat itu ia sangat membutuhkan uang untuk mengobati anaknya yang sedang sakit, tetapi setiap kalung itu keluar ia langsung menelannya kembali. Kejadian itu terulang selama tiga kali hingga akhirnya ia dibebaskan karena polisi tidak dapat membuktikan kesalahannya.
B. Cerpen ‘Si Bongkok dari Seoul’ karya Kwon Taeung
Cerita berawal dari penggambaran tokoh aku yang sedang terkenang seorang wanita muda dan cantik yang berasal dari Ahyondong. Wanita inilah yang selama beberapa hari tinggal bersamanya di sebuah rumah mewah yang diakui tokoh aku sebagai miliknya.
Dalam suasana perang, tanpa sengaja mereka bertemu dan sama-sama bersembunyi di rumah tersebut hingga akhirnya wanita itu pergi meninggalkannya begitu saja setelah merasa berhasil menguasai rumah tersebut.
Ketika peperangan usai, akhirnya tokoh aku juga mulai meninggalkan rumah itu karena ia sadar bahwa pemilik rumah yang sebenarnya pasti akan kembali. Ia menuju ke gubuk kecilnya yang masih utuh tetapi di sana ia tidak menemukan anjing kecilnya yang bernama Willi. Karena itulah ia kembali ke tengah kota tetapi alangkah terkejutnya ia saat melewati rumah mewah yang sempat ditempatinya. Di depan rumah itu duduklah wanita dari Ahyondong bersama seorang lelaki yang sehat dan berotot, tidak bongkok seperti dirinya.
Tokoh aku merasa sangat sedih dan kecewa karena ia telah kehilangan anjing kecilnya dan dikhianati oleh wanita dari Ahyondong itu. Ia tak punya apa-apa lagi.
KUMPULAN PUISI ANYER
Posted in
Label:
ANTOLOGI PUISI
|
di
12.09
KESENDIRIAN
aku mengumpulkan kulit kerang
sebagaimana aku menyulam serpihan kenangan
angin kencang
menderuku dari belakang
betapa keras ombak
mengejekku penuh kemenangan
kerinduan kutelan dan kumuntahkan
secara bersamaan
betapa curang waktu
tak membiarkanku lama bertahan
Anyer, Juli 2009
AKU IRI
aku iri, pada langit yang demikian terang memayungi samudra kala itu
aku iri, pada air penuh yang demikian bebas berkelana di pantai itu
Anyer, Juli 2009
TERHEMPAS
kuhempaskan diriku ke laut
sebagaimana ombak yang datang
menggulung batu-batu terjal
kulemparkan pikiran
sebagaimana nelayan
membuang jaring
membendung ikan-ikan
kutuangkan beban
yang selama ini menghimpitku
dengan kejam
tak peduli sekitar
yang semakin jauh
meninggalkanku ke belakang
aku terus maju
matahari pun mengiringiku
tanpa malu-malu
sekejap aku bisa
bernafas lega
terima kasih laut
telah berbagi rasa denganku
Anyer, Juli 2009
KERIANGAN ADIKKU
aku lihat adikku bercengkarama dengan laut
tak menghiraukan gelombang besar
yang menerjang
senyumnya lebar
begitu berani
menantang ombak yang datang
pekiknya lantang
dengan kaki telanjang
membentuk pasir berlubang-lubang
aku iri padanya
demikian riang
menikmati kebebasan
Anyer, Juli 2009
SELAMAT TINGGAL
birunya…
biru yang kurindukan
biru yang selalu kukenang
rasanya tak ingin pulang
bermain dengan ombak
menelan asin air garam
terhempas ke pasir
bercampur serpihan kerang
tapi aku harus pulang
berpamitan pada hari menjelang siang
pada langit terang
pada gelombang tak berkesudahan
pada angin kencang
pada ikan-ikan yang berenang
pada laut tenang
birunya…
birunya…
Anyer, Juli 2009
DEBAT BAHASA ANTARMAHASISWA SEJADEBOTABEK TAHUN 2006
Posted in
Label:
RIWAYATKU
|
di
11.52

TIGA DARI KANAN: AYU HANSAH, GIYANTI, DAN WILDAN MUBAROCK (PESERTA DEBAT DARI UNIVERSITAS PAKUAN-BOGOR)
Sumber: pusatbahasa.depdiknas.go.id
Debat Bahasa antarmahasiswa dalam rangka Bulan Bahasa dan Sastra 2006 yang dilaksanakan oleh Pusat Bahasa, Depdiknas, masuk putaran kedua. Pada putaran kedua ini yang menjadi tuan rumah adalah FKIP Universitas Pakuan, Bogor. Putaran kedua ini dibagi atas dua sesi. Sesi pertama topiknya adalah, “Penggunaan Bahasa Indonesia di Tempat Umum, Perlu atau Tidak?” dan sesi kedua topiknya adalah, “Bahasa Indonesia sebagai Bahasa Internasional, Mungkin atau Tidak?”
Isi Berita:
Debat sesi pertama yang diikuti oleh Universitas Indraprasta PGRI, Jakarta, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa, Serang, dan Universitas Pakuan, Bogor kurang “bertenaga”. Kelihatannya ketiga kelompok kurang menguasai masalah yang diperdebatkan. Istilah “tempat umum” (penggunaan bahasa Indonesia di tempat umum) ditanggapi berbeda-beda sehingga permasalahan tidak terfokus.
Debat ini menghangat pada sesi kedua, yakni ketika perdebatan mengarah pada masalah mungkinkah bahasa Indonesia menjadi bahasa internasional. Kelompok A (Universitas Pakuan, Bogor) dengan jelas dan lantang mengatakan tidak mungkin, alasannya adalah ada berbagai persyaratan yang harus dipenuhi ketika sebuah bahasa itu dijadikan bahasa Internasional. Persyaratan itu, antara lain, bahasa itu sudah dikenal di dunia internasional, ekonomi negara asal bahasa itu kuat, ipteknya kuat, dan militernya kuat. Di samping Indonesia tidak memenuhi persyaratan itu, bagaimana mungkin bahasa Indonesia menjadi bahasa internasional sedangkan masyarakatnya saja malu berbahasa Indonesia dan sangat bangga menggunakan bahasa Inggris/asing? Kelompok A memberi contoh pemakaian bahasa di pusat kota Jakarta dan kota besar lainnya, seperti penamaan gedung-gedung bertingkat, hotel, dan pusat perbelanjaan, hampir semua menggunakan nama asing. Begitupun kaum intelektual bangsa ini, sering sekali mencampurkan bahasanya dengan bahasa Inggris/asing.
Pernyataan kelompok A ini didebat oleh kelompok B (STKIP Budhi Rangkasbitung) yang menyatakan bahwa bahasa Indonesia punya potensi untuk menjadi bahasa internasional. Alasan yang mendasarinya, antara lain, bahasa Indonesia adalah bahasa yang sederhana, menjadi pemersatu bangsa Indonesia, bersifat dinamis, sedang berkembang, dan mudah dicerna. Alur yang melanggengkannya, antara lain, Indonesia kaya ragam budaya (bahasa dan budaya merupakan dua unsur yang tak terpisahkan) dan hal ini menarik bagi negara lain, adanya era globalisasi, adanya internet (yang memungkinkan Indonesia terpublikasi ke dunia internasional), dan adanya kerja sama pemerintah dengan negara lain dalam perdagangan (saling mengambil manfaat).
Sayangnya, penyangkalan kelompok B terhadap kelompok A tidak disertai contoh-contoh yang memadai sehingga alasan itu lebih merupakan retorika atau angan-angan/harapan saja.
Kelompok C (Universitas Indonesia) yang duduk dibangku netral berpendapat bahwa bahasa Indonesia bisa diwujudkan sebagai bahasa internasional, tetapi membutuhkan waktu yang tidak sedikit. Alasan yang dikemukakan, antara lain, Indonesia harus mengubah dan mengembangkan kepribadian bangsa dulu, lebih cinta dan bangga menggunakan bahasa Indonesia, dan menata keadaan internal bahasa Indonesia itu sendiri, sebagai bahasa yang layak secara internasional. Nah!
Satu hal lagi, yang membuat kelompok A merasa pernyataannya mendekati kebenaran adalah pernyataan narasumber (Dr. Sugiono, Pusat Bahasa) yang mengatakan bahwa jangan bicara bahasa Indonesia jadi bahasa internasional dulu. Masalahnya sekarang adalah apakah pada akhir abad ini bahasa Indonesia masih ada, masih digunakan?
Jadi, benarkah bahasa Indonesia menjadi bahasa internasional hanya mimpi???
Posted in
Label:
ANTOLOGI PUISI
|
di
11.00
BERONTAK
Perasaanku,
adalah gelombang besar yang terlepas dari lautnya
menghempas tajam
menubruk dinding pepohonan
riuhmu didengungkan
tapi aku tak peduli
coba melempar, batu, kail, sampan
berteriak menembus kebisuan
menjauh pada keangkuhan
karena aku tak ingin terinjak, terhempas dan tertingal
maka cibiran,
kuanggap menjadi angin lalu
menjauh, mengerang, dan menghilang
dan aku semakin paham
bagaimana harus bertindak dan berjuang!
November 2009
Perasaanku,
adalah gelombang besar yang terlepas dari lautnya
menghempas tajam
menubruk dinding pepohonan
riuhmu didengungkan
tapi aku tak peduli
coba melempar, batu, kail, sampan
berteriak menembus kebisuan
menjauh pada keangkuhan
karena aku tak ingin terinjak, terhempas dan tertingal
maka cibiran,
kuanggap menjadi angin lalu
menjauh, mengerang, dan menghilang
dan aku semakin paham
bagaimana harus bertindak dan berjuang!
November 2009
PELAJARAN BERHARGA UNTUK KRISTAL
Posted in
Label:
NASKAH DRAMA
|
di
15.21
Oleh: Ayu Hansah, S. Pd.
Kristal sedang bahagia sekali karena papanya baru saja membelikan ia hp merk terkenal keluaran terbaru. Di sekolahnya mungkin baru ia saja yang memilikinya.
Linda : ”Wah, hp baru ya, bagus sekali!”
Kristal : ”Iya dong… kameranya saja lima mega piksel, ada MP4, 3G dan internetnya
juga lho!”
Linda : ”Keren… pasti harganya mahal ya?”
Kristal : ”Ya… kalau untuk membeli hp yang sedang kamu pegang kira-kira bisa dapat
lima biji.”
Linda : ”Maksudmu?”
Kristal : ”Oh sudah lupakan saja. Supirku sudah datang tuh, oke sampai nanti ya.”
Kristal selalu memamerkan hp tersebut di depan teman-temannya tapi ketika ada seorang teman sekelasnya membeli hp baru yang lebih canggih dan lebih mahal harganya ia menjadi sangat iri.
Kristal : ”Pa, pokoknya aku mau ganti hp!”
Papa : ”Lho, bukankah hp yang minggu kemarin papa belikan masih bagus?”
Kristal : ”Sekarang ini zamannya blackberry Pa, hp yang kemarin papa belikan
modelnya sudah ketinggalan zaman!”
Papa : ”Papa bukannya pelit, Nak. Tapi sekarang bisnis papa sedang menurun jadi
untuk sementara kamu pakai saja hp yang itu dulu.”
Kristal : ”Pokoknya Kristal tidak mau pakai hp ini lagi, Pa. Kristal sudah bosan
lagipula Kristal ’kan malu, teman-teman Kristal sekarang semua pakai
blackberry!”
Papa : ”Tidak usah meniru teman-temanmu, apa adanya saja.”
Kristal : ”Sudahlah, Kristal tidak mau dengar ucapan Papa lagi!” (Masuk ke dalam
kamar dan membanting pintu kamar)
Sepulang sekolah…
Linda : ”Eh serius nih, kamu yang traktir?”
Kristal : ”Iya tenang saja, pokoknya semua aku yang traktir.”
Dewi : ”Wah sering-sering saja begini, bisa gemuk aku he… he…”
Linda : ”Eh ngomong-ngomong, hpmu baru lagi ya?”
Dewi : ”Iya, bukankah yang kemarin juga masih baru?”
Kristal : (Berbohong) ”Papaku membelikan lagi untukku, ya sudah kuterima saja.”
Dwi : ”Aduh… enak sekali ya jadi anak pengusaha kaya, bisa gonta-ganti hp kapan
saja.”
Linda : ”Eh Wi, sudah sore nih, kita ’kan mau ke toko buku dulu.”
Dwi : ”Oh iya lupa. Eh Kris, aku dan Linda mau cari buku dulu, kamu mau ikut
nggak?.”
Kristal : ”Ah tidak. Sudah kalian duluan saja, aku mau pulang dengan supirku.”
Dewi : ”Ya sudah, kami duluan ya. Terima kasih atas traktirannya.”
Hampir satu jam Kristal menunggu tapi supir pribadinya tidak kunjung datang, saat ditelepon hpnya juga tidak aktif, akhirnya ia menelpon papanya.
Papa : ”Halo Kristal kamu di mana?”
Kristal : ”Masih di kafe, Pa.”
Papa : ”Apa? Di kafe? Kamu itu ya, kerjanya cuma menghambur-hamburkan uang Papa. ”
Kristal : (Mengalihkan pembicaraan) ”Mana supir kesayangan Papa, jam segini kok
belum datang juga sih!”
Papa : ”Jadi Pak Wira belum datang?”
Kristal : ”Iya! Payah sekali supir Papa itu, sebaiknya pecat saja, Pa!”
Papa : ”Mungkin mobilnya terjebak macet atau bannya pecah. Kamu sudah coba
telepon dia?”
Kristal : ”Sudah Pa, tapi hpnya tidak aktif. Bagaimana kalau Papa saja yang jemput
Kristal sekarang?”
Papa : ”Tidak bisa Kristal, Papa masih banyak kerjaan. Kamu naik taxi saja ya,
duit dari papa masih ada ’kan?”
Kristal : ”Ah Papa ini bagaimana sih! Kristal ’kan tidak biasa naik taxi Pa.”
Papa : ”Untuk kali ini saja Nak, yang penting kamu bisa sampai di rumah dengan
selamat.”
Kristal : ”Baiklah, Pa.”
Papa : ”Nah itu baru putri Papa.”
Kristal terpaksa menuruti perintah papanya untuk pulang dengan taxi, ketika ia hendak mencari taxi tiba-tiba ia teringat kalau uang jajannya selama sebulan sudah ludes Ia sudah tidak punya simpanan di ATM. Saat itu ia hanya pegang dua ribu rupiah kembali dari kafe. Ingin ia sekali menelepon Papanya kembali tapi ia mengurungkan niat itu karena jika Papanya tahu ia telah menghabiskan uang untuk membeli hp baru dan menraktir teman-temannya maka Papanya akan sangat marah dan tidak akan memberikan uang jajan lagi untuknya. Akhirnya dengan berat hati Kristal memutuskan untuk naik bus. Cukup lama ia menunggu akhirnya sebuah bus dengan sarat penumpang datang. Karena takut kemalaman Kristal terpaksa menaiki bus tersebut. Ia berdiri di antara orang-orang tak dikenal. Ia sama sekali tidak menyadari kalau salah satu dari mereka sedang mengincar tasnya.
Papa : ”Aduuuh… cukup tidak ya, uang dua ribu ini?” (Bertanya dalam hati).
Kernet : ”Heh Neng, cepat bayar!”
Kristal : (Mengambil uang dari saku seragamnya) ”Ini Bang.”
Kernet : ”Apaan ini! Dandanan keren tapi bayarnya cuma dua ribu perak, cepat tambah
lagi!”
Kristal : ”Lho, memangnya berapa ongkos bus ini?”
Kernet : ”Lima ribu!”
Kristal : ”Hah! Lima ribu?”
Kernet : ”Iya. Ayo cepat bayar!”
Kristal memeriksa dompetnya kembali berharap masih ada sisa uang di sana tapi hasilnya nihil. Ketika ia hendak memasukkan kembali dompetnya ke dalam tas, ia baru sadar kalau tasnya sudah robek akibat sayatan pisau dan hp barunya sudah lenyap entah kemana.
Kristal : ”Aduuuh… di mana hpku?!”
Kernet : ”Heh, Neng mana tiga ribu lagi?”
Kristal : ”Maaf Bang, saya sudah tidak punya uang lagi dan sekarang hp saya
hilang!” (Mengusap air mata).
Kernet : ”Alah… jangan pura-pura kamu, bilang saja kamu tidak mau bayar!”
Kristal : ”Benar Bang, saya tidak bohong.”
Kernet : ”Kalau tidak punya uang kenapa naik? Cepat turun dari sini!”
Kristal : (Memohon) ”Tolong… jangan turunkan saya Bang, rumah saya masih jauh.”
Kernet : ”Itu bukan urusan gue, sudah sana cepat turun!”
Kernet itu mendorong tubuh Kristal dengan kasar ke luar bus. Hari semakin malam, Kristal hanya bisa menangis di pinggir jalan, uangnya sudah habis sehingga ia tidak bisa pulang. Ia ingin menelepon Papanya tapi hp yang baru saja dibelinya kini sudah diambil oleh pencopet. Akhirnya ia pulang dengan berjalan kaki sambil menyesali perbuatannya.
Kristal sedang bahagia sekali karena papanya baru saja membelikan ia hp merk terkenal keluaran terbaru. Di sekolahnya mungkin baru ia saja yang memilikinya.
Linda : ”Wah, hp baru ya, bagus sekali!”
Kristal : ”Iya dong… kameranya saja lima mega piksel, ada MP4, 3G dan internetnya
juga lho!”
Linda : ”Keren… pasti harganya mahal ya?”
Kristal : ”Ya… kalau untuk membeli hp yang sedang kamu pegang kira-kira bisa dapat
lima biji.”
Linda : ”Maksudmu?”
Kristal : ”Oh sudah lupakan saja. Supirku sudah datang tuh, oke sampai nanti ya.”
Kristal selalu memamerkan hp tersebut di depan teman-temannya tapi ketika ada seorang teman sekelasnya membeli hp baru yang lebih canggih dan lebih mahal harganya ia menjadi sangat iri.
Kristal : ”Pa, pokoknya aku mau ganti hp!”
Papa : ”Lho, bukankah hp yang minggu kemarin papa belikan masih bagus?”
Kristal : ”Sekarang ini zamannya blackberry Pa, hp yang kemarin papa belikan
modelnya sudah ketinggalan zaman!”
Papa : ”Papa bukannya pelit, Nak. Tapi sekarang bisnis papa sedang menurun jadi
untuk sementara kamu pakai saja hp yang itu dulu.”
Kristal : ”Pokoknya Kristal tidak mau pakai hp ini lagi, Pa. Kristal sudah bosan
lagipula Kristal ’kan malu, teman-teman Kristal sekarang semua pakai
blackberry!”
Papa : ”Tidak usah meniru teman-temanmu, apa adanya saja.”
Kristal : ”Sudahlah, Kristal tidak mau dengar ucapan Papa lagi!” (Masuk ke dalam
kamar dan membanting pintu kamar)
Sepulang sekolah…
Linda : ”Eh serius nih, kamu yang traktir?”
Kristal : ”Iya tenang saja, pokoknya semua aku yang traktir.”
Dewi : ”Wah sering-sering saja begini, bisa gemuk aku he… he…”
Linda : ”Eh ngomong-ngomong, hpmu baru lagi ya?”
Dewi : ”Iya, bukankah yang kemarin juga masih baru?”
Kristal : (Berbohong) ”Papaku membelikan lagi untukku, ya sudah kuterima saja.”
Dwi : ”Aduh… enak sekali ya jadi anak pengusaha kaya, bisa gonta-ganti hp kapan
saja.”
Linda : ”Eh Wi, sudah sore nih, kita ’kan mau ke toko buku dulu.”
Dwi : ”Oh iya lupa. Eh Kris, aku dan Linda mau cari buku dulu, kamu mau ikut
nggak?.”
Kristal : ”Ah tidak. Sudah kalian duluan saja, aku mau pulang dengan supirku.”
Dewi : ”Ya sudah, kami duluan ya. Terima kasih atas traktirannya.”
Hampir satu jam Kristal menunggu tapi supir pribadinya tidak kunjung datang, saat ditelepon hpnya juga tidak aktif, akhirnya ia menelpon papanya.
Papa : ”Halo Kristal kamu di mana?”
Kristal : ”Masih di kafe, Pa.”
Papa : ”Apa? Di kafe? Kamu itu ya, kerjanya cuma menghambur-hamburkan uang Papa. ”
Kristal : (Mengalihkan pembicaraan) ”Mana supir kesayangan Papa, jam segini kok
belum datang juga sih!”
Papa : ”Jadi Pak Wira belum datang?”
Kristal : ”Iya! Payah sekali supir Papa itu, sebaiknya pecat saja, Pa!”
Papa : ”Mungkin mobilnya terjebak macet atau bannya pecah. Kamu sudah coba
telepon dia?”
Kristal : ”Sudah Pa, tapi hpnya tidak aktif. Bagaimana kalau Papa saja yang jemput
Kristal sekarang?”
Papa : ”Tidak bisa Kristal, Papa masih banyak kerjaan. Kamu naik taxi saja ya,
duit dari papa masih ada ’kan?”
Kristal : ”Ah Papa ini bagaimana sih! Kristal ’kan tidak biasa naik taxi Pa.”
Papa : ”Untuk kali ini saja Nak, yang penting kamu bisa sampai di rumah dengan
selamat.”
Kristal : ”Baiklah, Pa.”
Papa : ”Nah itu baru putri Papa.”
Kristal terpaksa menuruti perintah papanya untuk pulang dengan taxi, ketika ia hendak mencari taxi tiba-tiba ia teringat kalau uang jajannya selama sebulan sudah ludes Ia sudah tidak punya simpanan di ATM. Saat itu ia hanya pegang dua ribu rupiah kembali dari kafe. Ingin ia sekali menelepon Papanya kembali tapi ia mengurungkan niat itu karena jika Papanya tahu ia telah menghabiskan uang untuk membeli hp baru dan menraktir teman-temannya maka Papanya akan sangat marah dan tidak akan memberikan uang jajan lagi untuknya. Akhirnya dengan berat hati Kristal memutuskan untuk naik bus. Cukup lama ia menunggu akhirnya sebuah bus dengan sarat penumpang datang. Karena takut kemalaman Kristal terpaksa menaiki bus tersebut. Ia berdiri di antara orang-orang tak dikenal. Ia sama sekali tidak menyadari kalau salah satu dari mereka sedang mengincar tasnya.
Papa : ”Aduuuh… cukup tidak ya, uang dua ribu ini?” (Bertanya dalam hati).
Kernet : ”Heh Neng, cepat bayar!”
Kristal : (Mengambil uang dari saku seragamnya) ”Ini Bang.”
Kernet : ”Apaan ini! Dandanan keren tapi bayarnya cuma dua ribu perak, cepat tambah
lagi!”
Kristal : ”Lho, memangnya berapa ongkos bus ini?”
Kernet : ”Lima ribu!”
Kristal : ”Hah! Lima ribu?”
Kernet : ”Iya. Ayo cepat bayar!”
Kristal memeriksa dompetnya kembali berharap masih ada sisa uang di sana tapi hasilnya nihil. Ketika ia hendak memasukkan kembali dompetnya ke dalam tas, ia baru sadar kalau tasnya sudah robek akibat sayatan pisau dan hp barunya sudah lenyap entah kemana.
Kristal : ”Aduuuh… di mana hpku?!”
Kernet : ”Heh, Neng mana tiga ribu lagi?”
Kristal : ”Maaf Bang, saya sudah tidak punya uang lagi dan sekarang hp saya
hilang!” (Mengusap air mata).
Kernet : ”Alah… jangan pura-pura kamu, bilang saja kamu tidak mau bayar!”
Kristal : ”Benar Bang, saya tidak bohong.”
Kernet : ”Kalau tidak punya uang kenapa naik? Cepat turun dari sini!”
Kristal : (Memohon) ”Tolong… jangan turunkan saya Bang, rumah saya masih jauh.”
Kernet : ”Itu bukan urusan gue, sudah sana cepat turun!”
Kernet itu mendorong tubuh Kristal dengan kasar ke luar bus. Hari semakin malam, Kristal hanya bisa menangis di pinggir jalan, uangnya sudah habis sehingga ia tidak bisa pulang. Ia ingin menelepon Papanya tapi hp yang baru saja dibelinya kini sudah diambil oleh pencopet. Akhirnya ia pulang dengan berjalan kaki sambil menyesali perbuatannya.
Langganan:
Postingan (Atom)