Tampilkan postingan dengan label CERPEN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label CERPEN. Tampilkan semua postingan

SINOPSIS CERPEN

A. Cerpen “Pispot” karya Hamsad Rangkuti
Cerita berawal dari penangkapan seorang penjambret yang beraksi di tengah pasar. Bersama wanita pemilik kalung 15 gram yang menjadi korban penjambretan, tokoh aku, petugas pasar, dan beberapa polisi akhirnya penjambret tersebut dibawa ke kantor polisi.
Di kantor polisi penjambret tersebut dipaksa untuk mengaku. Saat itulah tokoh aku mengadu pada polisi bahwa penjambret itu telah menelan kalung yang dijambretnya. Berkat keterangan tokoh aku inilah, maka polisi memaksa penjambret itu mengeluarkan kalung yang ditelannya. Penjambret itu menolak tetapi atas bujukan tokoh aku akhirnya penjambret itu mau menelan obat pencahar berupa larutan garam inggris, buah pepaya dan pisang untuk mengeluarkan kalung tersebut.
Melalui pispot, penjambret itu mengeluarkan kotorannya tetapi karena kalung milik wanita tidak diketemukan juga, maka akhirnya polisi membebaskan penjambret itu. Tokoh aku yang merasa sangat bersalah mengantarkan penjambret itu pulang ke rumahnya.
Setibanya di gang tempat tinggalnya, barulah penjambret itu mengaku bahwa memang benar ia telah menelan kalung 15 gram milik wanita itu. Ia terpaksa melakukannya karena saat itu ia sangat membutuhkan uang untuk mengobati anaknya yang sedang sakit, tetapi setiap kalung itu keluar ia langsung menelannya kembali. Kejadian itu terulang selama tiga kali hingga akhirnya ia dibebaskan karena polisi tidak dapat membuktikan kesalahannya.

B. Cerpen ‘Si Bongkok dari Seoul’ karya Kwon Taeung
Cerita berawal dari penggambaran tokoh aku yang sedang terkenang seorang wanita muda dan cantik yang berasal dari Ahyondong. Wanita inilah yang selama beberapa hari tinggal bersamanya di sebuah rumah mewah yang diakui tokoh aku sebagai miliknya.
Dalam suasana perang, tanpa sengaja mereka bertemu dan sama-sama bersembunyi di rumah tersebut hingga akhirnya wanita itu pergi meninggalkannya begitu saja setelah merasa berhasil menguasai rumah tersebut.
Ketika peperangan usai, akhirnya tokoh aku juga mulai meninggalkan rumah itu karena ia sadar bahwa pemilik rumah yang sebenarnya pasti akan kembali. Ia menuju ke gubuk kecilnya yang masih utuh tetapi di sana ia tidak menemukan anjing kecilnya yang bernama Willi. Karena itulah ia kembali ke tengah kota tetapi alangkah terkejutnya ia saat melewati rumah mewah yang sempat ditempatinya. Di depan rumah itu duduklah wanita dari Ahyondong bersama seorang lelaki yang sehat dan berotot, tidak bongkok seperti dirinya.
Tokoh aku merasa sangat sedih dan kecewa karena ia telah kehilangan anjing kecilnya dan dikhianati oleh wanita dari Ahyondong itu. Ia tak punya apa-apa lagi.
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

AKU INGIN MENCINTAIMU DENGAN SEDERHANA

Saya salut dengan Ustad Anismata, begitu pandai menyelami hati wanita, seolah ia merasakan sendiri setiap tetes airmata dan ketulusan yang dituangkannya dalam cerita, tanpa sadar saya menangis ketika membacanya, berkaca pada diri, memandang hitam putih di dalam hati...

"De'... de'... Selamat Ulang Tahun..." bisik seraut wajah tampan tepat di hadapanku. "Hmm..." aku yang sedang lelap hanya memicingkan mata dan tidur kembali setelah menunggu sekian detik tak ada kata-kata lain yang terlontar dari bibir suamiku dan tak ada sodoran kado di hadapanku.

Shubuh ini usiaku dua puluh empat tahun. Ulang tahun pertama sejak pernikahan kami lima bulan yang lalu. Nothing special. Sejak bangun aku cuma diam, kecewa. Tak ada kado, tak ada black forest mini, tak ada setangkai mawar seperti mimpiku semalam. Malas aku beranjak ke kamar mandi. Shalat Subuh kami berdua seperti biasa. Setelah itu kuraih lengan suamiku, dan selalu ia mengecup kening, pipi, terakhir bibirku. Setelah itu diam. Tiba-tiba hari ini aku merasa bukan apa-apa, padahal ini hari istimewaku. Orang yang aku harapkan akan memperlakukanku seperti putri hari ini cuma memandangku.

Alat shalat kubereskan dan aku kembali berbaring di kasur tanpa dipanku. Memejamkan mata, menghibur diri, dan mengucapkan. Happy Birthday to Me... Happy Birthday to Me.... Bisik hatiku perih. Tiba-tiba aku terisak. Entah mengapa. Aku sedih di hari ulang tahunku. Kini aku sudah menikah. Terbayang bahwa diriku pantas mendapatkan lebih dari ini. Aku berhak punya suami yang mapan, yang bisa mengantarku ke mana-mana dengan kendaraan. Bisa membelikan blackforest, bisa membelikan aku gamis saat aku hamil begini, bisa mengajakku menginap di sebuah resort di malam dan hari ulang tahunku. Bukannya aku yang harus sering keluar uang untuk segala kebutuhan sehari-hari, karena memang penghasilanku lebih besar. Sampai kapan aku mesti bersabar, sementara itu bukanlah kewajibanku.

"De... Ade kenapa?" tanya suamiku dengan nada bingung dan khawatir.

Aku menggeleng dengan mata terpejam. Lalu membuka mata. Matanya tepat menancap di mataku.. Di tangannya tergenggam sebuah bungkusan warna merah jambu. Ada tatapan rasa bersalah dan malu di matanya. Sementara bungkusan itu enggan disodorkannya kepadaku.

"Selamat ulang tahun ya De'..." bisiknya lirih. "Sebenernya aku mau bangunin kamu semalam, dan ngasih kado ini... tapi kamu capek banget ya? Ucapnya takut-takut.
Aku mencoba tersenyum. Dia menyodorkan bungkusan manis merah jambu itu. Dari mana dia belajar membukus kado seperti ini? Batinku sedikit terhibur.. Aku buka perlahan bungkusnya sambil menatap lekat matanya. Ada air yang menggenang.

"Maaf ya de, aku cuma bisa ngasih ini. Nnnng... Nggak bagus ya de?" ucapnya terbata. Matanya dihujamkan ke lantai.

Kubuka secarik kartu kecil putih manis dengan bunga pink dan ungu warna favoritku. Sebuah tas selempang abu-abu bergambar Mickey mengajakku tersenyum. Segala kesahku akan sedikitnya nafkah yang diberikannya menguap entah ke mana. Tiba-tiba aku malu, betapa tak bersyukurnya aku.

"Jelek ya de'? Maaf ya de'... aku nggak bisa ngasih apa-apa.... Aku belum bisa nafkahin kamu sepenuhnya. Maafin aku ya de'..." desahnya.

Aku tahu dia harus rela mengirit jatah makan siangnya untuk tas ini. Kupeluk dia dan tangisku meledak di pelukannya. Aku rasakan tetesan air matanya juga membasahi pundakku. Kuhadapkan wajahnya di hadapanku. Masih dalam tunduk, air matanya mengalir. Rabbi... mengapa sepicik itu pikiranku? Yang menilai sesuatu dari materi? Sementara besarnya karuniamu masih aku pertanyakan.

"A' lihat aku...," pintaku padanya. Ia menatapku lekat. Aku melihat telaga bening di matanya. Sejuk dan menenteramkan. Aku tahu ia begitu menyayangi aku, tapi keterbatasan dirinya menyeret dayanya untuk membahagiakan aku. Tercekat aku menatap pancaran kasih dan ketulusan itu. "Tahu nggak... kamu ngasih aku banyaaaak banget," bisikku di antara isakan. "Kamu ngasih aku seorang suami yang sayang sama istrinya, yang perhatian. Kamu ngasih aku kesempatan untuk meraih surga-Nya.. Kamu ngasih aku dede'," senyumku sambil mengelus perutku. "Kamu ngasih aku sebuah keluarga yang sayang sama aku, kamu ngasih aku mama...." bisikku dalam cekat.

Terbayang wajah mama mertuaku yang perhatiannya setengah mati padaku, melebihi keluargaku sendiri. "Kamu yang selalu nelfon aku setiap jam istirahat, yang lain mana ada suaminya yang selalu telepon setiap siang," isakku diselingi tawa. Ia tertawa kemudian tangisnya semakin kencang di pelukanku.

Rabbana... mungkin Engkau belum memberikan kami karunia yang nampak dilihat mata, tapi rasa ini, dan rasa-rasa yang pernah aku alami bersama suamiku tak dapat aku samakan dengan mimpi-mimpiku akan sebuah rumah pribadi, kendaraan pribadi, jabatan suami yang oke, fasilitas-fasilitas . Harta yang hanya terasa dalam hitungan waktu dunia. Mengapa aku masih bertanya. Mengapa keberadaan dia di sisiku masih aku nafikan nilainya. Akan aku nilai apa ketulusannya atas apa saja yang ia berikan untukku? Hanya dengan keluhan? Teringat lagi puisi pemberiannya saat kami baru menikah... Aku ingin mencintaimu dengan sederhana... .
Oleh; Ust Anismata
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS